Migrasi ke .net

Blog ini pindah ke alamat domain baru kholidrafsanjani.net. Sebagai pengantar saya menuliskannya dalam catatan singkat berjudul Mesin Pengarsip InternetSelamat menjelajah!

Iklan

Tiga Hari Bicara Jurnalisme Keberagaman

“Pelatihan selama tiga hari saja tak cukup untuk membuat seseorang semakin mahir dalam menulis, namun sangat berguna untuk memperluas perspektif seseorang.”

SAYA penasaran saat teman satu kampus saya mengikuti Workshop Pers Kampus, bertajuk “Jurnalisme Keberagaman” di Malang, pada awal Juli 2013 silam. Pada pelatihan itu, ia berkesempatan meliput warga Sampang yang diusir dari kampung halaman mereka, lantaran menjadi korban provokasi konflik berdalih perbedaan keyakinan. Berbekal hasil liputan itu, teman saya menulis laporan features berjudul Kami Ingin Pulang[i].

Laporan itu memuat bagaimana warga Syiah Sampang di pengungsian, berusaha melupakan konflik di kampung halaman mereka. Mereka tak mau mengingat lagi bagaimana rumah mereka dibakar, keyakinan mereka diganggu, lantas dipaksa meninggalkan tanah Sampang. Mereka tak ingat lagi bagaimana anak-anak mereka, selama masa pemindahan menuju pengungsian, menangis dan bertanya, “Mengapa rumah kami dibakar?[ii]

Mereka mencoba melupakan semua pengalaman pahit itu semua. Para orang tua di pengungsian tak ingin anak mereka menyimpan dendam pada dalang di balik peristiwa nahas itu kelak.

Pada waktu yang tak jauh saat laporan teman saya dipublikasi oleh Sejuk.org, beberapa media massa justru gencar menyiarkan kebencian terhadap ajaran Syiah. Misalnya media Nahimungkar.com yang menulis berita berjudul, Tajul Muluk dan Kisah Ingkar Janji Syiah Sampang[iii] dan Tidak Logis Jika Ahlussunah Dipaksa Menerima Ajaran Syiah[iv].

Beragam berita seperti itu tersebar pula secara viral di jejaring sosial. Tak jelas siapa penulisnya dan darimana sumber berita yang digunakan. Berita-berita provokatif semacam itu, rupanya hendak menyebar kebencian publik atas keyakinan warga Syiah di Indonesia. Warga Syiah yang menjadi korban, justru disudutkan kepentingan media tertentu.

Adanya dua cara pandang media dalam memberitakan konflik berlatar keyakinan ini, menjadi satu awal mula saya tertarik memahami bagaimana sebaiknya jurnalis mewartakan keberagaman. Baik dalam konteks agama, keyakinan kelompok, gender, suku, dan ras, tanpa mendiskreditkan salah satu pihak. Dengan kata lain, melawan tren media massa yang hanya mementingkan popularitas.

Baca lebih lanjut

Kebodohan Mencintai dan Mitos Makam Para Filsuf

“Brief is life but love is long,” petikan puisi Alfred Tennyson.

HERY PRASETYO tiba di tempat diskusi sekitar pukul delapan malam. Ia mengenakan jaket abu-abu, bercelana jeans pendek, dan berkacamata. Ia mengambil tempat duduk bersila di dekat pintu, lalu bersalaman dengan dua orang di samping kanan dan kirinya. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jember itu sengaja diundang untuk bicara cinta dalam kacamata filsafat.

“Mas Hery jangan duduk di dekat pintu, nanti masuk angin,” kata saya menyarankan.

“Oh tidak apa, tenang saja,” jawabnya singkat.

Tangannya sibuk membolak-balik lembaran kertas berisi pengantar diskusi yang ditulis beberapa peserta. Hery turut menulis satu halaman esai singkat berisi pandangan soal cinta. Judulnya, “Cinta dan hal-hal yang belum selesai.”

Dalam tulisannya ia memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. “Apakah cinta melulu bicara soal kesukaan terhadap lawan jenis?” Ia mengutip lirik lagu Nazareth berjudul Love Hurts. “Love hurts, love scars, love wounds.”

Bagi Hery, cinta telah menjadi mode diskursus yang hendak menguasai dan membiasakan hasrat untuk ditampilkan. “Cinta dialirkan dan sayatan memori membentuk objek penikmatan dan penguasan atas tubuh-tubuh terdisiplinkan,” tulisnya dalam esainya. Kecurigaannya, mengatakan bahwa cinta dan rasa suka yang selama ini dimiliki semua orang, adalah sebuah hasil pendisiplinan yang dibentuk lewat ukuran-ukuran normatif.

Selain Hery, ada lima peserta diskusi yang menulis pengantar bahan diskusi. Sebagian masih kuliah. Mereka berasal dari disiplin keilmuan yang beragam.

Imanuel Yudistira, mahasiswa jurusan sosiologi tingakat akhir. Ia aktif di UKPKM Tegalboto, lembaga pers mahasiswa yang berada di tingkat kampus Universitas Jember. Dalam esai singkatnya, ia menuangkan rasa gelisahnya melihat kondisi remaja era kekinian. Generasi yang sibuk dengan aktivitas akademis, sampai tak sempat menafsir realita sosial di sekitar mereka.

Yudistira curiga terhadap kebiasaan dan pola hubungan percintaan remaja, yang makin hari makin hiperbolik. “Untuk apa mereka bertanya pada pacarnya, sudah mandi atau belum? Sudah makan atau belum,” tanya Yudistira saat menggambarkan maksud tulisannya pada peserta diskusi. “Pertanyaan itu umumnya saling dimunculkan antara sepasang kekasih, padahal itu pertanyaan tak rasional,” lanjutnya.

“Padahal sudah jelas orang yang tak makan, maka dia akan mati.”

Baginya cinta tak lebih dari prosesi ritus penaklukan subjek, yang menggunakan mesin bernama hasrat untuk mencapai kenikmatan. Melalui sentuhan erotis, ciuman, bahkan seks. Tubuh kemudian selalu jadi tolok ukur. “Tubuh menjadi sarana pencapaian ledakan eksotisme dalam interaksi antar pribadi.  Tubuh menjadi ruang ekspresi dan eksplorasi untuk merasai, mencari, mengungkap dan bermain-main dengan kenikmatan,” tulisnya.

“Kebiasaan ini bagi saya adalah sebuah kebodohan yang dilegalkan. Parahnya menggunakan dalih atas nama cinta,” jelasnya memantik diskusi. Baca lebih lanjut